Callaccu dan Awakaluku, RTH atau Kawasan Bisnis Retil ?

  • By BerWa
  • September 23, 2020
  • 0
  • 753 Views

BERITAWAJO.ID – Rencana Pemerintah Daerah Kabupaten Wajo untuk mengaktifkan fungsi Terminal Sawerigading sebagai terminal regional, sekaligus menghentikan fungsi terminal Callaccu, merupakan suatu langkah yang wajib kita apresiasi. Kebijakan tersebut akan menjadi pijakan baru untuk kebijakan baru, walau hampir bisa dipastikan terminal Callacu tidak akan kembali menjadi lapangan sepakbola seperti sediakala.

Periode Pemerintahan tahun 1999 – 2004 adalah rentang waktu dimulainya alih fungsi lapangan sepakbola Callaccu menjadi terminal regional, setelah terminal regional sebelumnya yang berlokasi disebelah selatan pasar sentral Sengkang, kini lokasinya beralih fungsi menjadi gedung kantor Bank Pembangunan Daerah Sulselbar.

Alih fungsi Ruang Terbuka Hijau Lapangan Callacu tersebut menjadi sebuah kebijakan kontroversi dan kebijakan tersebut menjadi lonceng redupnya pembangunan bidang keolahragaan terkhusus cabang olahraga sepak bola, walaupun pemerintah menyiapkan perencanaan stadion Andi Ninnong dan rencana gedung olahraga (GOR) di Jl. Rusa, tutur Andi Gusti Makkarodda

Lebih lanjut pria sapaan AGM tersebut memaparkan bahwa kini faktanya, pada area rencana pembangunan tribun timur stadion Andi Ninnong telah berdiri dengan megah bangunan Public Safety Centre (PSC) dengan anggaran milyaran rupiah. Kita menunggu kebijakan masa yang akan datang, Stadion yang akan pindah atau PSC yang pindah?

Selain itu, Rencana pembangunan GOR yang telah merugikan keuangan negara dengan anggaran milyaran rupiah dan setidaknya 5 orang menjadi pesakitan akibat kasus korupsi pembangunan tahun 2010 itu, Bahkan kini faktanya, telah berdiri puluhan kontainer sebagai kawasan bisnis kuliner sebelum pandemi covid-19 mendera, sebagian kawasan itu disulap menjadi pasar barang-barang pecah bela menggunakan mobil kontainer.

Arah dan kebijakan pemerintah harus terus disosialisasikan dan masyarakat harus disiapkan dan mempersiapkan diri menjalani proses pembangunan yang tidak hanya membutuhkan anggaran besar tetapi waktu yang cukup lama, ungkapnya.

Semua pihak harus bersabar, menjalani proses pembangunan dan pemindahan (sementara) pedagang pasar Tempe akibat bencana kebakaran dari kelurahan Tempe ke kawasan Kelurahan Cempalagi dan Lapangan sepakbola Awakaluku Tempe sebagai pasar sore.

Semoga proses tersebut mengantar kita, kembali ke suasana tahun 70an / 80an, kembalinya ruang terbuka hijau lapangan Callacu dan Lapangan Awakaluku, tutup AGM.

Editor : Edi Prekendes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *